Model Belanja Gaya Anak Muda
SEBAGAI kota yang diikrarkan banyak orang sebagai "kiblat mode" dan "wilayah kreatif" kawula muda, potret wisata belanja Bandung tidak lepas dari kehadiran distro-distro. Jika Anda termasuk anak muda yang punya perhatian lebih dengan mode, dan ingin memakai baju-baju dengan desain unik, datang saja ke tempat ini,
Distro merupakan singkatan dari distribution store. Ada juga yang menyebutnya sebagai kepanjangan dari distributor outlet. Entah mana yang benar. tapi yang pasti, jika Anda berniat mulai berburu pakaian di tempat-tempat tersebut, Kota Bandung merupakan salah satu jawabannya.
Banyak pemilik distro di Kota Kembang ini yang memilih tempat usahanya tak jauh dari lokasi gaul anak muda Bandung, seperti Dago. Bahkan tempat-tempat yang berdekatan dengan sekolah maupun kampus, merupakan area strategis bagi mereka untuk mengundang para pembeli. Penasaran dengan koleksi barang-barang yang ditawarkan di sana? Coba saja datangi beberapa distro Anonim wardrobe.
Anak muda banget, itulah yang kesan dari produk-produk yang disediakan distro yang terletak di Jln. Hariangbanga No.7 Bandung ini. Mulai dari stiker, pin, dompet, topi, ikat pinggang, tali dan kantung handphone (HP), sandal, sepatu, T-shirt, dan jaket sudah dapat diperoleh dengan patokan harga mulai dari Rp 1.500,00 hingga Rp 250.000,00.
Bagaimana dengan desainnya? Ternyata, sederet perlengkapan anak muda ini tak pernah sepi dari desain berselerakan generasi kini. Terutama sejak akhir tahun 90-an, terdapat banyak komunitas anak muda yang menyukai olah raga skateboard dan musik. Otomatis, gaya berpakaian kawula muda pun saat itu pun mulai dipengaruhi dengan skate style, seperti T-shirt pas badan, celana panjang kedodoran, dan lain-lain.
Toko ini terbagi ke dalam dua bagian, lantai 1 untuk penjualan aksesori, tas, dan sandal. Sedangkan lantai 2, untuk penjualan T-shirt, jaket, dan celana. Bahkan dengan hadirnya band-band terutama yang berasal dari Kota Bandung, seperti Cokelat, Project Pop, dan Puppen, secara tak langsung pun turut memberi nilai positif bagi distro yang didirikan lebih dari lima tahun silam ini.
"Sebagian besar T-shirt yang terpilih sebagai merchandise bagi anak-anak band. Nah, ketika mereka pakai saat pentas, secara enggak langsung orang akan mengenali produk-produk kami," jelas Dede selaku Supervisor dari Anonim Wardrobe.
Dengan mengambil lokasi tak jauh dari Dago dan beberapa sekolah, menurut Dede, sebagian besar pembelinya pun datang dari kalangan anak SMP hingga mahasiswa. Kecenderungan mereka memilih T-shirt yang memiliki desain unik namun tetap casual dan terjangkau harganya (sekitar Rp 50.000,00 hingga Rp 90.000,00) tak dimungkiri oleh Dede. Terlebih jika, T-shirt tersebut sudah berkaitan dengan nama sebuah grup musik yang sedang naik daun.
"Bahkan fans-fans band tersebut, baik cewek maupun cowok sampai bela-belain membeli dan menunggu barang yang sedang habis stok," tambahnya.
Distro yang semula hanya ingin memasarkan barang-barang yang dibeli lewat internet ini kemudian berkembang dengan memasarkan barang dari merek-merek yang saat ini sudah dikenal di Bandung, seperti Oval, Airplane, dan No Label. Hal ini didukung dengan banyaknya clothing (pemasok barang-red), yang berasal dari anak-anak Itenas. Pengusaha yang berasal dari anak-anak mahasiswa inilah yang bisa mendapatkan uang dengan fun.
Selanjutnya, ada distro yang juga mengilhami gaya berbusana para pemain skateboard. Dengan mengambil tempat penjualan di Bandung Indah Plaza (BIP) dan sebuah outlet di Jln. Cihampelas ini berani membuka alternatif bagi anak muda untuk bergaya. "Terutama semenjak krisis moneter melanda negara kita pada tahun 1997-1998. Banyak orang mencari alternatif untuk keperluan busana. Seperti, bagaimana mendapatkan kualitas bagus dalam harga produk dalam negeri," jelas Muhammad Taufan selaku pemilik distro "Skaters".
Awalnya, dengan modal sekira Rp 10 juta cukup untuk memproduksi 5 lusin T-shirt dan tas. Kini, dengan merogoh kocek mulai Rp 25.000,00 hingga Rp 175.000,00 pembeli yang lagi-lagi dari kalangan SMP hingga mahasiswa sudah bisa mendapatkan barang-barang mulai dari topi, kaus, jaket, tas, celana panjang, celana pendek, boxer, kaus kaki, sepatu, sandal, ikat pinggang, pin, dompet, hand band, dll.
"Saya juga ingin membuat terobosan dengan membuat warna-warna T-shirt yang tadinya ’standar’ seperti putih, hitam, dan abu-abu menjadi warna-warna yang berani seperti merah, kuning, dan sebagainya," tambah Taufan yang mengaku mempromosikan produknya pula lewat band-band Bandung seperti Pass Band, Peterpan, dan Jamrud.
Kesan anak muda juga mencuat di distro 347/EAT yang terletak di Jln. Trunojoyo No. 4. Di tempat yang mengaku sebagai pionir distro di Bandung ini, dapat ditemui berbagai kebutuhan baju, aksesori, dan produk yang "cowok" banget. Barang-barangnya pun cenderung limitted edition, tidak massal, dan eksklusif. Sebab moto mereka adalah "brand" dan "image".
Namun, karena pasar yang "ditembak" terus berkembang, menurut retail Manager 347/EAT, Yupiterinasih, distro ini akhirnya merangkul juga pasar kids (anak-anak) dan pasangan muda yang ingin tampil keren. Distro ini tidak melulu bergerak dalam penjualan barang, tetapi juga di bidang penerbitan majalah musik yang diberi nama "Ripple", dan recording. Mengaku berdiri sejak 1996, distro yang semula berada di Jln. Dipati Ukur 347 ini, owner-nya pun anak-anak muda.
Berbeda dengan distro-distro yang sudah mapan, distro Cat Rock yang baru berdiri 4 bulan lalu dengan owner-nya Surya Wisesa mengaku, ingin ikut memanfaatkan peluang pasar yang kian terbuka lebar. Distro yang sengaja merekrut pengelola lulusan anak-anak SMA ini, menyediakan produk-produk berhaluan musik "rock". Coba saja lihat desain-desain T-shirt yang dipajangnya, semuanya menyuarakan "napas rock" yang dominan.
"Terus terang, kita memang bisa dikatakan sebagai pemain baru.
Tempatnya pun belum dikelola secara maksimal. Tetapi kalau melihat jumlah pembeli, lumayan. Dari hari ke hari terjadi peningkatan yang cukup berarti," ujarnya.
Untuk masalah desain, Surya menegaskan, ia ingin memberi sesuatu yang "beda" dari yang sebelumnya ada. Makanya, seperti juga diakui para kreator distro yang lainnya, mereka pasti melakukan riset pasar dulu saat akan mengeluarkan produk terbarunya. "Ini penting, karena selera costumer itu menjadi salah satu masukan bagi kita pada saat akan mengeluarkan produk baru," ujar Yupi yang diamini Surya.
Sementara itu, menurut ahli desain outlet dan gerai deptstore di Bandung, Ir. Bahar Buasan, kehadiran distro di Bandung sudah menjadi fenomena seni wisata berbelanja. Hanya, dari segi desain, distro-distro tersebut masih harus mempertegas stand of life anak mudanya. Bukan saja "isi" yang dijual distro, tetapi juga infrastruktur pendukung distro tersebut, seperti lahan parkir. "Kalau didesain anak muda banget, kesan kerennya kan akan lengkap," ujarnya.
Meski demikian, Bahar angkat jempol, untuk wilayah kreativitas anak-anak muda tersebut. Mereka, kata dia, pengusaha-pengusaha kreatif dengan jiwa kemudaannya yang menjadi aset kota. Anda ingin gaya dan mengecap kreasi-kreasi mereka? Distro-distro yang ada siap menyambut Anda?